Informasi Belanja | Lifestyle | Potret Kehidupan Lainnya Terkini

Informasi Belanja | Lifestyle | Potret Kehidupan Lainnya Terkini

Hukum Qurban dalam Islam menurut Ulama

Hukum Qurban dalam Islam menurut Ulama

Kurban yang dilakukan ketika hari raya idul adha memiliki tujuan menyembelih hewan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mungkin banyak ulama yang kemudian berselisih mengenai hukum qurban dalam Islam. Kurban sudah tentu memiliki keutamaan sehingga sudah tentu banyak orang yang kemudian berlomba-lomba untuk menjalankan ibadah tersebut. banyak ulama yang mengatakan bahwa menyembelih hewan kurban ternyata lebih utama daripada melakukan sedekah yang senilai dengan harga hewan kurban atau bahkan harganya melebihi harga hewan tersebut. Maksud terpenting yang sebenarnya disampaikan oleh kegiatan berkurban adalah sebagai usaha untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Menyembelih kurban juga lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunah. Nah, lalu sebenarnya apa dan bagaimana hukum melakukan kurban dalam Islam?

Hukum qurban dalam Islam ternyata juga sudah didiskusikan dan diperdebatkan oleh para ulama dan menghasilkan dua pendapat. Pertama, orang yang memiliki kelapangan harta dan kelebihan harta ternyata dianggap berkewajiban menunaikan ibadah ini. Beberapa ulama yang memiliki pendapat tersebut meliputi Ra’biah (guru Imam Malok), Al Auza’I, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Lait’s bin Sa’ad serta sebagian ulama yang menjadi pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Seorang ulama bahkan berpendapat bahwa kewajiban menunaikan kurban tampak lebih kuat dari pada pendapat ulama yang tidak mewajibkan dilaksanakannya kurban bagi orang yang mapan dan memiliki kelebihan harta. Berikut hadits Abu Hurairah yang menyatakan Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

Kedua, hukum qurban dalam Islam adalah sunah mu’akkad atau lebih ditekankan dilakukan untuk seseorang yang memiliki kemapanan dan kelebihan harta. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa ulama meliputi Malik, Syafi’I, Ahmad, Ibnu Hazm, dan lain-lain. Riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari digunakan sebagai pedoman ulama dalam berpendapat. Beliau menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan kurban padahal dirinya memiliki kelapangan harta, hal ini ia lakukan semata-mata karena ia takut tetangganya menganggap bahwa kurban wajib baginya. Dalam riwayat tersebut beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berkurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira kurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).

Masing-masing pendapat yang dimunculkan oleh para ulama tentang hukum qurban dalam Islam sudah tentu berdasarkan dalil-dalil yang sudah ada yang dianggap sebagai dalil pokok. Jika dijabarkan dan dibandingkan sudah tentu keduanya memiliki kekuatan yang sama-sama kuat. Pendapat seorang ulama yang dijadikan sebagai jalan tengah pun memberi solusi atas perbedaan-perbedaan pendapat oleh para ulama yang sudah ada dan sama-sama dianggap kuat.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *